jogjajogja INFO

Beranda » HOME » Rotowijayan

Rotowijayan

Blog Stats

  • 25,783 hits

Arsip

roadroda@gmail.com

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya

Agustus 2013
S S R K J S M
« Jul   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Roll

Remajasampit
wildan arif
Link lainnya

Jogja memang gudangnya daya tarik budaya tradisi. Hal ini dapat dilihat dari berjejalnya berbagai tempat beraroma seni dan budaya yang berakar pada budaya setempat yaitu Jawa. Tak hanya karena kebijakan pemerintah tempat, penduduk bahkan pendatang yang merasa Jogja sebagai “rumah” juga turut berperan aktif dalam melestarikan dan menjaga kelangsungan hidup warisan budaya yang tak ternilai harganya itu.

Di sekitar area Keraton Yogyakarta, terdapat satu museum khusus yang tidak dapat ditemui di tempat lain. Museum itu adalah Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Bukan kereta uap atau kereta api yang menjadi koleksi museum ini, melainkan kereta kuda milik keraton Kasultanan Yogyakarta. Jika dibandingkan dengan jaman sekarang, kereta kuda milik keraton sebanding dengan plat nomor polisi Indonesia 1 dan Indonesia 2 yang dipakai Presidan dan Wakilnya.

Keberadaan Museum Kereta sudah dirintis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Kereta koleksi museum ini telah berusia puluhan bahkan ada mencapai lebih dari seratus tahun. Beberapa masih digunakan dalam upacara-upacara kebesaran keraton. Yang tidak pernah digunakan umumnya karena pertimbangan usia dan sejarah yang pernah dilalui kereta-kereta tua itu.

Penamaan masing-masing kereta kuda tersebut seiring dengan kepercayaan orang-orang Jawa akan adanya roh atau kekuatan pada tiap benda. Lebih dari itu, penamaan dilakukan karena kereta-kereta tersebut telah banyak berjasa dan telah dianggap sebagai pusaka keratonKereta-kereta milik keraton tersebut masing-masing diberi nama dan memiliki kegunaan khusus.

Museum Kereta terletak masih dalam lingkungan Keraton Yogyakarta bagian barat daya alun-alun utara, tepatnya di Jalan RotowijayanMuseum Kraton yang dibangun dengan arsitektur Jawa ini berada di atas tanah seluas 14.000 meter persegi. Saat ini, museum ini memiliki koleksi sebanyak 18 buah kereta kuda. Diantara koleksi tersebut, Kereta Nyai Jimat adalah yang paling dihormati.

Berdasarkan bentuknya, kereta-kereta milik keraton dibagi menjadi 3 jenis. Yang pertama adalah kereta atap terbuka dan beroda dua. Contoh dari kereta jenis ini adalah Kereta Kapolitan. Jenis kedua adalah kereta atap terbuka dan beroda empat, misalnya Kyai Jongwiyat dan semua kereta yang menggunakan namaLandower. Dan, jenis terakhir adalah kereta atap tertutup dan beroda empat, misalnya Nyai Jimat, Kyai Garudayaksa, dan Kyai Wimanaputra.

Bentuk kereta juga membedakan fungsi dan penggunanya. Kereta jenis pertama digunakan oleh Sultan untuk kendaraan rekreasi. Jenis kedua digunakan oleh beberapa kelompok terpandang seperti para pengawal sultan, rombongan penari keraton, dan para komandan prajurit keraton. Yang ketiga adalah keretakhusus Sultan dan keluarganya. Kyai Ratapralaya yang dibuat di kampungRotowijayan adalah kereta jenazah khusus bagi Sultan yang sudah mangkat. Dalam sejarahnya, kereta ini baru digunakan dua kali.

Sebagai pusaka keratonkereta-kereta tesebut juga mendapat penghormatan berupa acara JamasanJamasan adalah kegiatan memandikan, memberi “makan” berupa sesaji, dan mendoakan doakan semua benda pusakaJamasan pusaka keraton selalu jatuh pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama tiap bulan Suro ( bulan pertama dalam kalender Jawa). Upacara jamasan pusaka Keraton Yogyakarta berlangsung di dua tempat yaitu di Gedong Pusaka dan diMuseum Kereta Keraton Yogyayakarta.

Pelaksanaan jamasan pusaka di Museum kereta hanya khusus untuk kereta pusaka. Upacara jamasan kereta pusaka dipimpin oleh sesepuh abdi dalemkeraton yang bertugas menjaga museum tersebut. Kereta yang wajib dijamasi tiap tahun adalah kereta Nyai JimatKereta Nyai Jimat merupakan keretakebesaran Sultan HB I sampai dengan Sultan HB IV yang dianggap sebagai sesepuh kereta-kereta yang lain. Kereta buatan Belanda tahun 1750an ini merupakan pemberian Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Tiap kali dilaksanakan Jamasan, Kereta Nyai Jimat harus selalu ditemani oleh sebuah kereta lain. Kereta yang menemani dipilih secara bergantian tiap tahunnya. Dalam acara jamasan itu, semua yang terlibat dalam upacara haruslah laki-laki dan mengenakan pakaian adat Yogyakarta lengkap dengan surjan dan blangkon. Karena unik dan hanya terjadi setahun sekali, upacara tradisional ini tentu bisa menjadi atraksi tersendiri bagi para turis.

Selain prosesi upacara, ada satu hal lagi yang unik dan menarik. Selama prosesiJamasan itu, banyak penonton yang umumnya kaum tua berdesakan disekitarkereta pusaka. Mereka menunggu dengan sabar air bekas mencuci kereta, yang dalam bahasa setempat sering diistilahkan sebagai “ngalap berkah”. Hingga sekarang, masih banyak warga yang percaya bahwa air bekas cucian kereta berkhasiat memberi kesuburan bagi sawah, panjang umur, serta kesehatan. Bahkan tak sedikit yang membasuh wajah dengan air bekas cucian kereta yang mereka kumpulkan dari got di sekitar tempat upacara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: