jogjajogja INFO

Beranda » HOME » Sosrowijayan

Sosrowijayan

Blog Stats

  • 25,761 hits

Arsip

roadroda@gmail.com

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya

Agustus 2013
S S R K J S M
« Jul   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Roll

Remajasampit
wildan arif
Link lainnya

Berlokasi di jantung kota Yogyakarta dengan tempat yang strategis membuat Kampung Sosorowijayan menjadi singgahan favorit bagi turis domestik maupun mancanegara. Strategis karena letaknya yang dekat dengan Stasiun Tugu yaitu sekitar 200 meter kearah selatan. Memasukki jalan Sosrowijayan akan banyak ditemui penginapan yang berada di tengah-tengah gang dengan harga murah, yakni sekitar Rp 6.000 sampai Rp 20.000 per malam. Untuk fasilitas lainnya, warga mendirikan usaha café, laundry, warung-warung kecil dan berbagai artshop. Ini membuat Kampung Sosorowijayan digunakan sebagai meeting point bagi backpacker yang ingin menikmati liburan dengan harga miring. Selain tempat yang strategis dan penginapan yang murah, keramahan warga Sosorowijayan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis. Suasana kekeluargaan dan keakraban sangat kental terasa di setiap pelosok gang Sosorowijayan. Tamu yang baru datang disambut dengan ramah oleh pengayuh becak yang setia menunggu pelanggan dan ingin merasakan sensasi berbecak sambil melihat suasana di sekitaran Malioboro, membeli bakpia pathok sebagai jajanan khas dari kota Yogyakarta atau melihat koleksi kaos Dagadu. Tak kalah dengan pengayuh becak, ketika memasuki gang-gang di sekitar jalan Sosorowijayan, guide sudah siap memberitahu mereka mengenai penginapan dan berbagai informasi tentang obyek wisata yang ada di Pulau Jawa. Mereka siap menemani tamu yang ingin melakukan perjalanan wisata tanpa terlalu merogoh kocek yang dalam alias murah.

Saat menyusuri gang satu, tamu akan menemukan took buku yang tempatnya tidak terlalu besar tetapi memiliki koleksi buku yang lumayan lengkap. Kebanyakan buku dan novel berbahasa Inggris tapi ada pula yng berbahasa Indonesia. Meskipun buku yang dijual merupakan buku lama, buku tersebut masih layak untuk dibaca apalagi harganya terbilang murah daripada membeli buku di took buku biasa. Selain took buku, terdapat pula warung internet (warnet) untuk turis yang ingin menjelajahi dunia maya atau menghubungi keluarga dan temannya melalui jejaring sosial. memasuki gang dua, terdapat areal yang dijadikan lapangan. Tempat ini sering dijadikan warga sebagai tempat untuk berkumpul dan tempat bermain bagi anak-anak, seperti bermain layang-layang dan bulu tangkis. Turis bisa mencoba lotek yang dijual di pinggir lapangan atau bermain bersama anak-anak.

Menelik sedikit sejarah tentang Kampung Sosrowijayan, dulu tempat ini adalah tempat pengungsian dan transit dari masyarakat Bali pada saat Gunung Agung meletus. Sebagian masyarakat Bali lalu pindah ke Pulau Sumatra dan sebgian lagi masih tetap tinggal. Tahun 1967, Pasar Kembang yang menjadi bagian dari Sosrowijayan pindah ke tempat lain. Tahun 1975, beberapa warga setempat memanfaatkan kedatangan turis dengan membangun café. Tak hanya warga saja yang membuka usaha disana, banyak warga dari kota Kulonprogo menjadi pedagang sebagai mata pencaharian mereka. Salah satu guide bernama Ryan Hidayat menyatakan bahwa orang-orang asli Sosrowijayan lebih suka berprofesi sebagai pemandu wisata. Yang unik dari para pemandu wisata disini adalah mereka menguasai bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya bukan dari pendidikan formal melainkan karena sering bergaul dengan turis asing dan berkomunikasi dengan mereka.

“Saya sering mengajak turis terutama bule untuk memancing. Saya mengajak mereka untuk menyukai sesuatu yang saya suka dan mereka terlihat bahagia. Mungkin di negaranya kolam pancing tidak ada yang sebesar di tempat kita, jadi mereka (turis.red) sangat merasa excited,” ujar pria asli Kampung Sosrowijayan ini. Ia menambahkan jika pada bulan Juni-Juli-Agustus kampung internasional ini banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, khususnya backpacker. Wisatawan ramai, penghasilan pun meningkat. Rata-rata Ryan mengantongi uang Rp 1.000.000,- per hari. Untuk bulan Mei turis lebih banyak berasal dari Perancis dan Belanda dan sedangkan bulan Juni-Juli turis yang berasal dari Swedia, Irlandia, Skandinavia, dan Jerman akan lebih banyak mendominasi kunjungan mereka ke kampung ini.

“Untuk keamanan, tidak usah dipertanyakan lagi. Semua warga disini saling menjaga keamanan agar turis merasa nyaman untuk tinggal sementara atau bahkan menetap disini. Setiap sore kami saling berkumpul bersama dan bermain gitar sambil membawakan lagu yang mereka dan kita bisa. Semua sudah seperti saudara, semuanya keluarga.” tambahnya.

Jangan heran jika siang hari Kampung Sosrowijayan sebagai kampung internasional tampak sepi. Itu dikarenakan karena banyak tamu berplesir mengunjungi tempat wisata di sekitaran kota Yogyakarta seperti Candi Prambanan, Keraton, Ratu Boko, dan masih banyak lagi. Ketika matahari mulai tenggelam hingga tengah malam, kawasan Sosrowijayan mulai ramai oleh hilir mudik tamu yang baru datang dari berwisata atau sekedar ingin berjalan-jalan di sekitar gang. Seperti yang dilakukan Matt, turis asal Perancis yang pada saat itu sedang bersantai dan asyik berbincang-bincang dengan warga setempat di gang satu. Ini adalah kali pertama Matt mengunjungi Kampung Sosrowijayan dan ia merasa terkesan terhadap keramahan warga yang menyambut kedatangan dirinya. Ia berencana akan diam untuk satu hari saja di kampung ini karena Matt akan melanjutkan perjalanannya ke Solo dan Semarang. Sebelum menginjakan kaki di Yogyakarta, Matt menginap di Kuta Bali selama sehari dan pergi mengunjungi Gunung Bromo di Jawa Timur. Pagi harinya sudah ia lewatkan untuk mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Borobudur juga jalan-jalan di sekitar pasar Malioboro untuk melihat berbagai cendera mata khas kota Gudeg ini.

Memang, daya tarik dari Kampung Sosrowijayan ini sangat membantu bagi para pelancong yang berkantong tipis tapi ingin melihat keindahan kota Yogyakarta. Penginapan yang murah dengan warga yang ramah mencirikan bagaimana kampung ini memanjakan turis yang berlibur. Semoga saja apa yang membuat turis merasa nyaman untuk memilih tempat ini sebagai tempat penginapan mereka, tidak mengalami perubahan ke arah yang tidak baik. Warga harus benar-benar memanfaatkan peluang yang ada untuk mendapat penghasilan yang lebih baik karena keberadaan turis menjadi sangat krusial bagi kondisi ekonomi mereka. Dan mereka harus berupaya agar Kampung Sosrowijayan tetap menjadi surga bagi para backpacker.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: